Pendidikan Tinggi serta Kenyataan Dunia Kerja – Selama bertahun-tahun, pendidikan tinggi di yakini sebagai jalan paling masuk akal menuju kehidupan yang lebih stabil. Gelar sarjana di anggap sebagai jaminan kalau kerja keras di bangku kuliah akan berujung di kestabilan ekonomi serta masa depan yang lebih pasti. Tapi, untuk lulusan saat ini, kepercayaan itu mulai ragu. Ijazah tidak lagi otomatis membuka pintu kerja, serta pendidikan tinggi ada di persimpangan antara harapan serta kenyataan.
Pendidikan dan Realita Dunia Kerja
Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan kalau rasio penduduk Indonesia dengan umur 15 tahun ke atas yang berhasil menyelesaikan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi masih rendah, yaitu 10 persen. Walau seperti itu, jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat setiap tahun. Di sisi lain, dunia kerja tidak tumbuh dengan kecepatan yang sebanding. Ketidakseimbangan inilah yang membuat banyak sarjana harus menghadapi masa tunggu yang panjang, bekerja di luar bidang keahlian, atau ada di kondisi kerja yang tidak pasti.
BPS juga mencatat kalau tingkat pengangguran masih ada di angka jutaan orang. Di dalamnya, lulusan pendidikan tinggi bukanlah golongan yang sepenuhnya terlindungi. Kenyataan ini mematahkan dugaan lama kalau pendidikan tinggi secara otomatis menjamin terserapnya seseorang ke pasar kerja. Gelar akademik memang penting, tapi tidak lagi cukup. Masalah ini tidak berhenti di persoalan statistik ketenagakerjaan. Yang lebih parah ialah hadirnya krisis harapan. Pendidikan tinggi selama ini di bangun di atas janji pergerakan sosial kalau pendidikan ialah jalan keluar dari keterbatasan ekonomi.
Saat janji itu tidak terpenuhi, yang terkejut tidak hanya karir, tapi juga keyakinan terhadap sistem pendidikan itu sendiri. Banyak lulusan muda mulai menanyakan makna kuliah yang di tempuh dengan biaya, waktu, serta energi yang tidak sedikit. Perubahan dunia kerja ikut mempersulit situasi. Digitalisasi, otomatisasi, serta fleksibilitas kerja menggeser keperluah kompetensi secara cepat. Tapi, tanggapan dunia pendidikan belum sepenuhnya sejalan. Kurikulum di banyak perguruan tinggi masih fokus di keberhasilan akademik formal, sedangkan keterampilan adaptif, llintas disiplin, serta kesiapan menghadapi ketidakpastian belum menjadi perhatian utama.
Akhirnya, jurang antara dunia kampus serta dunia kerja semakin terasa. Dalam kondisi ini, ada kecenderungan untuk menyederhanakan masalah individu. Lulusan di anggap kurang fleksibel, kurang bersaing, atau tidak cukup berusaha. Pandangan ini mengabaikan kenyataan kalau tidak semua mahasiswa mempunyai akses yang sama dengan kesempatan pendukung.
