Saat Mahasiswa Takut Salah di Banding Takut Tidak Tahu

Saat Mahasiswa Takut Salah di Banding Takut Tidak Tahu

Saat Mahasiswa Takut Salah di Banding Takut Tidak Tahu – Peristiwa mahasiswa yang lebih takut salah di banding takut tidak tahu menjadi persoalan di banyak universitas. Di ruang kelas, diskusi sering jadi terasa kaku. Dosen mengajukan pertanyaan, tapi hanya sedikit yang menanggapi. Bukan karena tidak ada yang mau bertanya, tapi karena rasa takut yang lebih besar takut salah serta di anggap negatif. Rasa takut ini tidak hadir begitu saja. Dari awal, sistem pendidikan terbiasa menempatkan kesalahan sebagai sesuatu yang harus di jauhi. Nilai, peringkat, serta standar akademik membuat mahasiswa terbiasa mengejar jawaban benar, bukan proses berpikir. Karena, bertanya atau menjawab dengan kemungkinan salah di nilai sebagai risiko, bukan bagian dari pembelajaran.

Apa yang Terjadi dengan Mahasiswa

Baca juga : Pendidikan Tinggi serta Kenyataan Dunia Kerja

Lingkungan sosial di kampus juga memperkuat kondisi ini. Mahasiswa sering merasa harus terlihat pintar di depan dosen serta teman sekelas. Kesalahan kecil bisa menjadi bahan ledekan atau label negatif. Dalam kondisi ini, diam terasa lebih aman di banding mencoba. Tapi, sikap ini malah menjauhkan mahasiswa dari makna pendidikan itu sendiri. Efek dari budaya itu tidak sampai di situ saja. Mahasiswa yang terbiasa diam akan kesusahan meningkatkan keahlian berpikir, beragumentasi, serta menyampaikan pendapat. Sebenarnya, keterampilan itu sangat di perlukan di dunia kerja, organisasi, serta kehidupan sosial.

Banyak lulusan yang secara akademik baik, tapi kurang percaya diri dalam mengambil keputusan atau menyampaikan ide. Tapi kenyataannya, dunia kerja malah menuntuk kebalikan dari budaya itu. Kesalahan kerap kali di anggap sebagai bagian dari proses belajar serta ide. Karyawan yang berani mencoba serta mengeluarkan inovasi, walaupun belum sempurna, malah lebih di hargai. Saat mahasiswa tidak di biasakan dengan ruang aman untuk salah, mereka akan mengalami culture shock ketika menghadapi kenyataan profesional.

Universitas seharusnya menjadi tempat yang mendukung keberanian berpikir, bukan hanya kepatuhan akademik. Dosen mempunyai fungsi penting dalam menghasilkan suasana kelas yang menyeluruh, di mana pertanyaan serta pendapat benar auat salah tetap di hargai. Di sisi lain, mahasiswa juga harus menyadari kalau tidak tahu bukanlah aib, tapi titik awal untuk belajar. Mengubah budaya takut salah memang tidak mudah. Tapi, langkah kecil seperti membiasakan bertanya, berdiskusi, serta mengakui keterbatasan diri bisa menjadi awal perubahan. Sebab pendidikan bukan tetang siapa yang paling jarang salah, tapi siapa yang paling mau belajar dari kesalahan.

Exit mobile version